Parai beach

Parai beach
Subhanallah

Sabtu, 15 Desember 2012

Penyebutan “Kami” untuk Allah SWT dalam Al-Qur‘an




Assalamu'alaikum Wr. Wb.
karena Allah SWT, beberapa tahun yang lalu, saya menjadi seorang mualaf. Saya belum bisa membaca Quran, tapi kalau terjemahannya sudah sering saya baca. Pertanyaan saya menyangkut penyebutan/penulisan "Kami" untuk Allah SWT di terjemahan, dan jumlahnya cukup banyak. Sedangkan kata "kami", menurut aturan bahasa Indonesia itu menunjukan kata ganti orang pertama jamak, yang artinya lebih dari satu. Saya takut mengartikannya, sebab saya yakini bahwa Allah swt itu Esa, Satu dan Dzat yang sangat Ghaib. Mohon penjelasan. Terima kasih.

Wassalamualaikum. Wr. Wb.


Agus Widjaja


Jawaban:


Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu 'ala Rasulillah, Waba'du.

Dalam bahasa Arab, dhamir 'nahnu' adalah bentuk kata ganti orang pertama dalam bentuk jamak yang berarti kita atau kami. Tapi dalam ilmu nahwu, maknanya bisa saja bukan kami tetapi aku, saya dan lain-lainnya.

Terkadang kita sering terjebak dengan pertanyaan seperti ini. Model pertanyaan seperti ini bisa jadi berangkat dari kepolosan dan keluguan, namun di sisi lain bisa jadi merupakan usaha untuk membodohi umat Islam yang awam dengan bahasa Arab dengan menggunakan pertanyaan menjebak ini. Hal ini tidak aneh dan sudah sering dilakukan. Dengan bekal kemampuan bahasa arab seadanya, pertanyaan seperti ini sering dijadikan senjata buat umat Islam yang minim ilmunya.

Tapi bagi mereka yang memahami bahasa Arab sebagai bahasa yang kaya dengan makna dan kandungan seni serta balaghah dan fashohah-nya, pertanyaan seperti ini terkesan lucu dan jenaka. Bagaimana mungkin aqidah Islam yang sangat logis dan kuat itu mau ditumbangkan cuma dengan bekal logika bahasa yang separo-separo.

Dalam ilmu bahasa arab, penggunaan banyak istilah dan kata itu tidak selalu bermakna zahir dan apa adanya. Sedangkan Al-Quran adalah kitab yang penuh dengan muatan nilai sastra tingkat tinggi. Kata 'Nahnu' tidak harus bermakna arti banyak, tetapi menunjukkan keagungan Allah SWT. Ini dipelajari dalam ilmu balaghah. Sebenarnya dalam bahasa Indonesia ada juga penggunaan kata "kami" tapi bermakna tunggal. Misalnya seorang kepala sekolah dalam pidato sambutan pesta perpisahan anak sekolah berkata, "Kami sebagai kepala sekolah berpesan..." Padahal yang jadi kepala sekolah hanya dia seorang dan tidak beramai-ramai, tapi dia bilang "Kami". Lalu apakah kalimat itu menunjukkan bahwa kepala sekolah sebenarnya ada banyak atau hanya satu?

Kata kami dalam hal ini digunakan sebagai sebuah rasa bahasa dengan tujuan nilai kesopanan.

Tapi rasa bahasa ini mungkin tidak bisa dicerap oleh orang asing yang tidak mengerti rasa bahasa Indonesia. Atau mungkin juga karena di barat tidak lazim digunakan kata-kata seperti itu. Selain kata "nahnu", ada juga kata "antum" yang sering digunakan untuk menyapa lawan bicara meski hanya satu orang. Padahal makna "antum" adalah kalian (jamak). Secara rasa bahasa, bila kita menyapa lawan bicara kita dengan panggilan "antum", maka ada kesan sopan dan ramah serta penghormatan ketimbang menggunakan sapaan "anta".

Wallahu a'lam bishshawab.
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.

Ahmad Sarwat, Lc.


eramuslim.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

jangan lupa berikan komentarmu di sini ya :D