Parai beach

Parai beach
Subhanallah

Rabu, 25 Januari 2012

Sinopsis: The Moon That Embrace The Sun Ep.1



ada dua matahari di langit dan ada dua bulan sehingga siang hari terasa sangat panas dan malam hari sangat dingin. 
Ratu Dowager/ Ibu Suri menuang air atas bunga teratai, nampaknya hatinya tengah gundah. Ia melanjutkan kata-katanya


Semua mahluk ada dalam kekacauan dan manusia hidup menderita. Lalu uncullah seorang pahlawan yang menggunakan panah untuk menjatuhkan satu matahari dan satu bulan. Dan terciptalah kedamaian di bumi.
Ibu suri menyajikan teh bunga teratai dalam cangkir-cangkir kecil di depannya.

Ratu Dowager/ Ibu Suri

Saat itu Ibu suri tengah mengalami kegundahan dengan keberadaan adik tiri Raja Seong Jo, Pangeran Ui Seong, yang terlahir dari ibu yang berbeda. Raja sangat menyayangi adiknya dan Ibu suri khawatir keberadaan P. Ui Seong akan mengancam keselamatan dan tahta Raja karena kepopulerannya.
Apa yang harus kita lakukan? tanya Ibu Suri pada sepupunya. Kita tidak bisa hanya duduk dan menunggu munculnya pahlawan bukan?
Secara tersirat ia meminta sepupunya itu untuk menyingkirkan P. Ui Seong
Hanya ada satu matahari di langit, tegas Ibu Suri, maka kau harus membuatnya menghilang
Malam itu sekelompok pasukan berbaju hitam dengan penutup wajah memasuki kediaman P. Ui Seong. Mereka menanam dan memasang jimat di sekitar kediaman Pangeran. Salah seorang dari mereka memasuki kamar P.Ui seong dan mendapati kamar itu kosong. Ternyata P. Ui Seong sudah mengetahui kedatangan mereka namun karena jumlah mereka banyak, P Ui Seong terdesak dan terluka.

Di tempat lain, seorang cenayang/ dukun wanita tiba-tiba terbangun dari tidurnya seperti merasakan sesuatu yang buruk tengah terjadi. A Ri, dukun wanita itu segera mengambil pakaiannya, Do Mo nyeo, teman sekamarnya berusaha mencegah tetapi percuma saja, A Ri tetap berkeras hendak pergi. Apakah kau tidak merasakannya? tanya A Ri, ada jiwa pembunuh, orang itu ada dalam bahaya dan aku harus melihatnya. Meskipun kau datang, tak ada yang bisa kau perbuat, kata temannya. A Ri berlari menembus malam dan Do Mo-nyeo mengejarnya namun langkahnya terhenti karena tiba-tiba ia seperti merasakan kekuatan aneh dari bulan.

Di kediaman P Ui Seong, pria itu semakin terdesak oleh serangan lawan. Tubuhnya terluka dan pria itu, suruhan Ibu Suri muncul dan dengan satu tebasan P Ui Seong terkapar meregang nyawa. Di saat yang sama A Ri tiba di tempat itu dan melihat pembunuhan atas P Ui Seong, sialnya pria itu melihat bayangan A Ri dari pedangnya. Ia memerintah anak buahnya untuk mengejar dan menangkap wanita itu.

A Ri berlari menembus malam dalam kejaran beberapa pria berpakaian hitam-hitam. Tiba-tiba ia mendapati tubuhnya sudah berdiri di tepi jurang dan pria-pria berpakaian hitam sudah semakin dekat. akhirnya dukun itu memutuskan untuk menjatuhkan tubuhnya ke dalam jurang. Pria-pria itu berusaha mencari tubuhnya di dalam jurang namun mereka hanya menemukan pita rambut  A Ri. Mereka langsung mengenali simbol itu berasal dari 'Star Mansion Hall' tempat dimana para cenayang istana bermarkas. Mereka berusaha mencari tubuh A Ri hidup atau mati.

Sementara itu di Star Mansion Hall, kepala dukun istana tengah memeriksa anak buahnya dan tidak mendapati A Ri diantara mereka. Ia bertanya dimana A Ri berada tetapi tak satupun dari para dukun wanita itu yang mengetahui. hanya Do Moo-nyeo yang tahu tetapi ia tidak mengatakan keberadaan sahabatnya itu.

Sementara Ibu Suri menerima kabar tentang dukun istana bernama A Ri yang menyaksikan semua kejadian pembunuhan P Ui Seong. Ia seseorang yang luar biasa dan merupakan kandidat kuat ketua berikutnya. A Ri...A Ri...guman Ibu Suri. 
Ia dalam keadaan terluka dan tak mngkin dapat pergi jauh, kata sepupunya. Ia berjanji akan segera menangkap wanita itu secepatnya.
Romantika antara keluarga kerajaan dan seorang dukun, guman Ibu Suri. 

Ternyata ada hubungan cinta antara P Ui Seong dan dukun wanita itu. Ibu Suri berkata bukankah hal yang sangat mungkin untuk membantu pria yang dicintainya, wanita itu akan menggunakan doa-doa dan jimat.

Malam itu pasukan kerajaan menyerbu kediaman P Ui Seong yang dituduh sebagai penghianat dan menemukan jasad pria itu dan jasad sahabatnya, Dae Seong yang juga dibunuh dengan cara digantung, sehingga terkesan bunuh diri. Selain itu mereka juga menemukan surat di dekat mayat Dae Seong yang sengaja ditinggalkan oleh para pembunuh.

Raja Seong Jo

Raja menerima dan membaca surat itu, ia sangat terpukul mendapat kabar rencana pemberontakan yang dilakukan adik tiri dan beberapa orang teman dekatnya ( yang sebenarnya adalah rekayasa Ibu Suri dan kaki tangannya ). Tiba-tiba kepala dukun istana datang menghadap dan raja menunjukkan sebuah jimat padanya.
Apa yang akan kau katakan mengenai jimat ini? tanya Raja
Jimat ini akan memberi keuntungan bagi kekuatan matahari, jawab kepala dukun. Dan ternyata jimat itu adalah milik A Ri. raja bertanya dimana A Ri, saat diberitahu wanita menghilang, ia memerintahkan untuk menangkapnya secepatnya.

Nyonya Heo, wanita bangsawan tengah hamil tua sedang dalam perjalanan dengan tandu. Di tengah jalan yang sepi tiba-tiba muncul seorang wanita dan terjatuh tepat di depan tandunya. Pelayannya berteriak ketakutan mengira wanita itu telah meninggal. Ny. Heo turun dan memeriksa keadaan wanita itu.
Cepatlah pergi...cepat pergi.....guman wanita itu menyuruh Ny. Heo segera pergi. Tetapi wanita itu tidak tega dan membawa tubuh wanita yang penuh luka itu ke dalam tandunya. Wanita yang erluka itu adalah A Ri.

Di pintu gerbang kota, pasukan bersiaga memeriksa semua pendatang dengan gambar seorang wanita. Ia menghentikan tandu Ny. Heo untuk memeriksa, pelayannya ketakutan dan berusaha mencegah tetapi mereka tetap membuka tandu itu. Mereka melihat Ny.Heo yang memegangi perutnya yang besar, sementara tubuh A Ri disembunyikan di balik gaunnya. Melihat kondisi Ny.Heo yang hendak melahirkan akhirnya pengawal mempersilahkan mereka masuk.

Baru beberapa langkah tiba-tiba pengawal melihat banyak darah tercecer dari tandu Ny. Heo. Pengawal itu kembali memeriksa dan menemukan Ny.Heo yang tengah kesakitan dan gaunnya bersimbah darah. Pelayannya ketakutan dan berkata Nyonya mereka menjadi seperti itu karena ulah mereka. Jika terjadi sesuatu dengan Nyonya, kalian harus bertanggung jawab, kata si pelayan. Pengawal mempercayainya dan benar-benar percaya Ny.Heo akan segera melahirkan. Akhirya mereka membiarkan rombongan itu melewati gerbang.


A Ri sangat berterimakasih pada Ny. Heo dan akan selalu mengingat kebaikannya yang telah menyelamatkan nyawanya. Ia berkata kelak putri Ny. Heo sangat cantik seperti bulan. Ny. Heo sangat bahagia saat ia mengetahui calon bayinya adalah seorang anak perempuan. Tiba-tiba mata batin A Ri melihat takdir dan masa depan anak dalam kandungan Ny. Heo dan wajahnya nampak gusar. Ny. Heo bertanya ada apa? apa yang ia lihat atas putrinya? A Ri tidak menjawab. Ia bahkan berjanji pada Ny. Heo kelak akan selalu melindungi putri wanita itu. meskipun harus mati, aku akan selalu melindunginya, kata A Ri.

Dalam perjalanan, A Ri tertangkap dan ia disiksa dengan tuduhan menggunakan jimat untuk membantu para pemberontak. Ia dipaksa mengatakan siapa orang yang telah menyuruhnya, dan tentu saja ia sama sekali tidak mengakui apapun karena tidak pernah berbuat seperti yang mereka tuduhkan. Ia tahu ini sebuah konspirasi dan ia mengutuk orang-orang yang melakukan hal itu padanya. Kelak suatu saat nanti, saat bulan purnama akan mengakhiri hidup mereka. A Ri dihukum mati. Sebelum mati ia berpesan pada sahabatnya, Do Moo nyeo untuk berjanji melindungi seseorang. Demi diriku, kau harus melindunginya.....sayangnya A Ri tidak sempat mengatakan siapa orang yang harus ia lindungi.


Ny. Heo melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Kebahagiaannya sudah lengkap. Kini ia memiliki seorang putra dan seorang putri. Putrinya diberi nama Yeon woo. Sementara di tempat lain Do Moo-nyeo menguburkan jasad sahabatnya dan terngiang pesan terakhir sahabatnya itu untuk melindungi seseorang, demi dirinya. Ia menatap pada bulan yang saat itu tengah bulan purnama.......

Beberapa tahun kemudian

Istana tengah disibukkan dengan acara pelantikan bagi para pelajar terbaik di akademi militer kerajaan. Raja juga menghadiri acara tersebut. Salah satu diantara para pelajar terbaik adalah Heo Yeom, putra Ny. Heo. Ny. Heo juga hadir dalam acara tersebut bersama putrinya, Yeon woo. Suaminya juga berada disana karena ia merupakan salah satu profesor di akademi kerajaan.

Yeon woo telah berusia 13 tahun, ia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan berbeda dengan gadis-gadis yang lain, ia sangat gemar membaca dan memiliki kecerdasan yang luar biasa.

Yeon woo ( 13 tahun )

Sementara itu terjadi sedikit kekacauan di dalam istana dimana beberapa barang menghilang dari tempatnya, sebuah payung merah, beberapa makanan dan sebuah pakaian hilang dari penyimpanan. sementara itu kasim  mendatangi kamar putra mahkota untuk memintanya segera mempersiapkan diri. Tetapi ternyata kamar Putra Mahkota kosong, kasim menjadi panik dan mencari kesana-kemari.


Di tempat lain Putra Mahkota tengah melepaskan pakaian kebesarannya dan mengganti dengan pakaian harian. Beberapa barang tergeletak diatas meja termasuk payung merah dan beberapa makanan yang dilaporkan hilang. Ia juga membawa sebuah peta, nampaknya PM hendak melarikan diri dari acara pelantikan hari ini. Ia melihat ke langit
Aku tidak bisa membiarkan kulitku terbakar, katanya pada diri sendiri dan ia pun mengembangkan payung merahnya lalu berjalan dengan santai.

 Acara pelantikan dimulai, raja hadir dan semua memberi hormat, termasuk Yeon woo dan ibunya. Tiba-tiba seekor kupu-kupu berwarna kuning terbang menghampirinya dan Yeon woo terpesona dengannya. Beberapa saat kemudian Ny.Heo tidak mendapati Yeon-woo didekatnya, gadis itu menghilang.


Yeon woo mengikuti kupu-kupu terbang, tanpa sadar ia memasuki istana semakin dalam. Putra Mahkota bersiap memanjat tembok istana dengan menggunakan tangga bambu. Meski demikian ia tidak pernah sedikitpun melepaskan payung merahnya. Yeon woo berjalan semakin mendekati Putra Mahkota, matanya selalu tertuju pada kupu-kupu itu sehingga ia tidak menyadari ada orang lain di dekatnya. Putra Mahkota melihat seorang gadis mendeka padanya dan tanpa sadar ia terpesona dengan Yeon woo.


Akhirnya mereka saling berhadapan, Putra Mahkota masih berdiri diatas tangga bambunya. Mereka saling bertatapan dan putra Mahkota kehilangan keseimbangannya. Tubuhnya terjatuh menimpa Yeon woo, mereka terhempas ke tanah bersama-sama dan payung merah Putra Mahkota jatuh dengan manisnya tepat diantara tubuh mereka. Selama beberapa saat mereka tidak sadarkan diri karena terkejut.


Saat menyadari apa yang terjadi, mereka menjadi malu. Yeon woo terjatuh diatas lengan Putra Mahkota yang menahan kepalanya. Mereka cepat-cepat berdiri. Putra Mahkota begitu gugup, namun ia segera mengawali pembicaraan.
Melihat pakaianmu nampaknya kau bukan seorang pelayan, katanya. lalu mengapa kau berada di dalam istana?
Lalu mengapa kau memanjat tembok? Yeon woo balik bertanya
Putra Mahkota berang, hanya aku yang boleh bertanya disini, cepat jawab pertanyaanku! perintahnya

Apakah kau tidak tahu, menyelinap ke dalam istana adalah kejahatan besar? tanya PM. Yeon woo mengatakan yang sebenarnya bahwa ia tengah menghadiri acara pelantikan kakaknya. PM tidak percaya, percaya atau tidak itu terserah kau saja, jawab Yeon woo.

Yeon woo justru mengira Putra Mahkota adalah seorang pencuri yang masuk ke istana, PM berdalih ia hanya melihat-lihat saja, kemudian ia mengatakan sama seperti Yeon woo, ia juga ikut menghadiri pelantikan kakanya. Yeon woo tentu saja tidak percaya apalagi melihat benda-benda yang terjatuh dari tas PM. Yeon woo berteriak-teriak ada pencuri di Eunwolgak. Para pengawal datang dan PM menyeret Yeon woo membawa gadis itu kabur dari para pengawal yang tengah mencari Putra Mahkota.


Putra Mahkota membawa Yeon woo ke tempat yang lebih aman, ia menyalahkan Yeon woo dan Yeon woo tidak mau kalah. 
Ini semua gara-gara kau, jika bukan karenamu aku tidak akan menjadi lelah begini, kata PM. Mereka terlibat pertengkaran kecil dan hampir saja Putra Mahkota mengatakan jati dirinya namun ia segera mengurungkan niatnya.

Akhirnya PM menceritakan yang sebenarnya, bahwa ia ingin sekali mengunjungi kakak laki-lakinya.
Aku dan kakakku memiliki ayah yang sama tetapi ibu kami berbeda. Walaupun begitu ia memperlakukan diriku dengan sangat baik, PM mengenang kakak lai-lakinya. Meski kami berdua memiliki ijasah dan pengetahuan militer yang sama, namun ia tidak dapat berpartisipasi dalam ujian umum. Meski ia sangat berbakat namun ia tidak dapat menjadi pegawai. Meski ia menghormati dan mencintai ayah, namun ia tak pernah mendapatkan cinta darinya.Meski ia mendapatkan kasih sayang dari orang lain namun ia tak dapat muncul dihadapan orang lain. Karena diriku, kakak harus hidup seperti itu.

Ia mungkin takut dimarahi oleh ayahku sehingga ia tak pernah datang mengunjungiku selama beberapa waktu. Makanya aku sangat ingin pergi dan mencari kakakku. Putra Mahkota mengakhiri ceritanya.
Apakah kau mengerti sekarang? tanyanya pada Yeon woo

Mengapa kau menyalahkan diri sendiri? tanya Yeon woo
Apa?
Tuan muda menjadi putra pertama atau kakak menjadi putra yang tidak diakui, itu bukan sesuatu yang bisa kau pilih. Tetapi mengapa kau menyalahkan diri sendiri?

Putra Mahkota terkesan dengan kata-kata Yeon woo yang ternyata sangat cerdas dan mengetahui banyak hal termasuk hukum dan politik. Tetapi kemudian mereka bertengkar lagi, Putra Mahkota dalam keadaan marah hampir mengatakan jati dirinya, namun akhirnya ia mengaku dirinya adalah pegawai di Eunwolgak. Yeon woo bertanya pada PM berapa besar gajinya sebagai pegawai kerajaan?


Di saat yang sama Ny.Heo mencari putrinya kesana-sini. Ia melapor pada pengawal dan tiba-tiba ia melihat putrinya berjalan mendekati mereka bersama seseorang.
Yeon woo! panggil ibunya. 
Ibu...! Ny Heo memeluk putrinya dengan bahagia. PM melihat pengawal mengikuti ibu Yeon woo. Cepat-cepat ia mendekati pengawal itu dan memintanya untuk tidak mengatakan apa-apa. pengawalnya bingung. Jangan bergerak, jangan mengatakan apapun. kalau tidak aku kan menghukummu, kata PM pada pengawal. Yeon woo melihat mereka.
Aku sudah mengakui kesalahanku dan akan melaporkan ke pengawal istana sendiri, kata Putra Mahkota. Apa kau sudah puas sekarang?

Lalu ia berkata pada pengawal istana dengan suara dikeras-keraskan. Semua yang aku curi ada di Eunwolgak, aku akan mengantarmu kesana. Pengawal itu bengong tapi PM segera mendorongnya pergi menjauh. Yeon woo dan ibunya mengamati mereka dengan heran

Yeon woo dan ibunya bersiap pulang, tiba-tiba seorang dayang istana memberikan sebuah bungkusan berwarna hijau dengan pita merah. Ia berkata itu dikirim oleh tuan muda di Eunwolgak. Yeon woo langsung paham siapa yang dimaksud dayang itu. Tetapi apa ini? tanya Yeon woo.

Sebelumnya....
Di Eunwolgak, Putra Mahkota tengah menulis sebuah pesan untuk Yeon woo. Sementara beberapa kasim dan pegawai istana membereskan barang-barang yang telah 'dicuri' dari istana.
Meski banyak hal yang ingin kukatakan namun aku tak bisa mengatakannya, kata Putra Mahkota. Tetapi semakin aku memikirkan hal ini aku akan semakin marah. Maka aku hanya akan mengatakan padanya seperti ini. Jika ia memang gadis yang cerdas, maka ia akan tahu apa maksudnya.

Apakah ia mengatakan sesuatu yang lain? tanya Yeon woo pada dayang itu. 

Katakan padanya untuk berhati-hati di jalan saat malam di kemudian hari, kata Putra Mahkota

Menyuruhku untuk berhati-hati di jalan saat malam hari, mungkin sebenarnya ia bukan orang yang jahat. Yeon woo tersenyum senang.

Putra Mahkota mendapat teguran keras dari ayahnya, Raja Seong jo. Ia berdalih hanya ingin mendiskusikan sebuah buku dengan kakaknya. Raja tidak menerima alasan PM dengan dalih ia telah memiliki guru-guru terbaik. Raja juga meminta pengawal untuk lebih mengawasi Putra Mahkota. Ratu berusaha membujuk Raja untuk mengijinkan P. Yang Myeong tetapi sia-sia saja.

Di tempat lain Pangeran Yang Myeong ( kakak Putra Mahkota ) tengah berjalan-jalan di pasar, tiba-tiba sesuatu menarik perhatiannya. Ia bertanya ada apa gerangan? Salah seorang penjual di pasar itu mengatakan bahwa ada seorang anak buta yang memiliki kemampuan luar biasa seperti seorang dukun dan mampu menyembuhkan penyakit. Yang Myeong cukup cerdas untuk mengetahui kebenarannya namun ia bergabung bersama orang-orang itu untuk menyelidiki yang sebenarnya. Tak jauh dari situ, Jang Nok Yeong/ Do Moo-nyeo memperhatikan mereka. Ia mendapat laporan bahwa orang-orang itu menggunakan seorang anak kecil untuk menipu orang-orang itu bahkan membiarkan anak itu kelaparan. Jang Nok Yeong berusaha menyelidiki apa yang terjadi. tanpa sengaja ia melihat Yang Myeong, dan mata batinnya melihat sesuatu pada diri anak itu. Joseon memiliki dua matahari, katanya pada diri sendiri

Ternyata kecurigaannya terbukti, dengan berpura-pura cedera kakinya, P Yang Myeong mendekati dukun kecil itu dan benar juga ternyata di tubuh gadis itu banyak ditemukan lebam. saat yang Myeong menyodorkan sebuah kue, gadis itu langsung merebutnya dan memakannya dengan lahap. Tuannya sangat marah apalagi kemudian terbongkar kebohongannya. Gadis kecil itu sama sekali tidak buta. Para pasien yang tengah antri marah-marah dan menyerang mereka. Yang Myeong membawa gadis kecil itu pergi. Ia melihat Jang Nong Yeong dan memintanya memanggil pengawal.

Penjahat-penjahat itu berhasil mengejar Yang Myeong dan membawa gadis itu pergi, tetapi Jang Nok Yeong mincul bersama para pengawal dan gadis kecil itu berhasil diselamatkan. Yang Myeong berhadapan dengan ketua penjahat. Ia dikeroyok para penjahat itu. Awalnya Yang Myeong berusaha tampil kalem dan berpura-pura bodoh
Aku peringatkan kau jangan membuatku marah, karena kalau aku marah kau ada dalam bahaya, kata Yang Myeng sambil berlagak tolol. Ketua penjahat itu malah menghajarnya sampai Yang Myong terkapar.

Sampai akhirnya ketua penjahat itu menyinggung tentang Raja.
Guru Pedang kayuku mendapatkan gelar sarjana terbaik dalam ujian pegawai negeri, kata Yang Myeong dengan wajah tololnya.
Jika guru pedang kayumu adalah sarjana terbaik, maka ayahku adalah raja, kata ketua penjahat itu mengejek dan memukul Yang Myeong sampai roboh. Kemarahan Yang Myeong semakin memuncak
Yang Myeong bangkit dan mengusap darah dari bibirnya.

Aku kenak Raja, katanya sambil menatap ketua penjahat itu dengan garang. ia tidak mengatakan bahwa ia punya anak laki-laki seperti dirimu!teriaknya.

Yang Myeong mengamuk dan menghajar semua penjahat itu habis-habisan. Ilmu beladirinya sangat tinggi membuat para penjahat tak berdaya melawannya.

Malam harinya dengan menggunakan pakaian lengkap Yang Myeong berdiri diatas bukit yang menghadap ke istana: Yang Mulia, katanya. Pelayan setiamu telah kembali dengan selamat. Maafkan aku karena tidak memberi salam secara pribadi. Lalu ia memberi hormat.

Yang Mulia Putra Mahkota, dimanakah dirimu berada saat ini? dan ia pun tersenyum pada dirinya sendiri.


Di tempat lain, di kediaman Putra Mahkota, remaja 15 tahun itu tengah dirundung sesuatu, berdiri di taman sambil menatap langit ( sayangnya di belakangnya banyak kasim dan dayang yang selalu mengikuti kemanapun  langkahnya ). Aku tidak akan melarikan diri, katanya jengkel. Tiba-tiba banyak kelopak bunga Peach yang jatuh dari langit. Putra Mahkota teringat kejadian saat ia jatuh bersama gadis itu, Yeon woo. Ia tersenyum sendiri. 
Jika kau tahu aku adalah Putra Mahkota kau pasti akan lebih mengomel, tetapi mungkin kita tidak akan bisa saling bertemu lagi. Ia memandangi langit....oh tidak, ternyata ia tengah memandangi payung merah-nya yang sengaja digantung tinggi-tinggi.

Sementara itu di kediaman Yeon woo, gadis itu sedang berusaha keras memecahkan teka-teki dibalik pesan 'tuan muda dari Eunwolgak. Ia sangat bingung sampai-sampai keluar rumah dan melihat pesan itu dibawah cahaya bulan.

Kukira jika aku melihatnya dibawah sinar bulan aku bisa melihat pesan yang tersembunyi, keluhnya.
Tanpa sengaja Yang Myeong melihat Yeon woo, ia mengamati Yeon woo dari tempatnya. Hingga gadis itu akhirnya berhasil menemukan pesan dari isi surat Putra Mahkota. Pesan itu menunjuk pada jati dirinya yang sebenarnya yaitu: Putra Mahkota. Yeon woo lemas dan jatuh terduduk. Di tempat lain Putra Mahkota juga tengah memikirkannya, Dapatkah ini terjadi? Akankah aku bertemu denganmu lagi?tanyanya pada diri sendiri.
Putra Mahkota apakah kau tahu? kata Yeon woo. Aku takut kita tak akan pernah bertemu lagi. Untuk seorang gadis kecil ini sangatlah beruntung


Yang Myeong menatap Yeon woo
Bisa bertemu denganmu lagi....aku sangat bahagia.....Heo Yeon woo,, lalu ia tersenyum......bersambung



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

jangan lupa berikan komentarmu di sini ya :D